TANJUNG SELOR – Analis Kebencanaan Ahli Muda BPBD Kalimantan Utara, Zaenudin, mengingatkan bahwa meski hingga September ini baru tercatat tujuh kasus kebakaran hutan dan lahan (karhutla), ancaman bencana tersebut tetap harus diwaspadai.
Menurut Zaenudin, rendahnya angka kejadian tahun ini tidak lepas dari curah hujan yang relatif tinggi. Di wilayah Nunukan misalnya, intensitas hujan sepanjang tahun menekan potensi karhutla.
“Khusus di wilayah Nunukan, intensitas hujan sepanjang tahun menjadi faktor utama sehingga jumlah kasus bisa ditekan. Namun pada dasarnya, kecenderungan karhutla di Kaltara terus meningkat,” katanya.
Ia menekankan, pemicu utama kebakaran lahan masih berasal dari aktivitas pembukaan lahan dengan cara membakar. Pola ini, kata dia, harus menjadi perhatian serius pemerintah daerah maupun pihak terkait.
Berdasarkan data BPBD Kaltara, luas lahan yang sudah terdampak karhutla mencapai lebih dari 101 ribu hektare. Angka tersebut mencerminkan kerusakan yang tidak bisa dianggap kecil meski kasus tahun ini relatif rendah.










