Putus Rantai Kemiskinan, Kadis ESDM Kaltara Gagas Program ‘Kaltara Terang’ di Perbatasan

banner 728x90

TANJUNG SELOR – Kepala Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Kaltara, Yosua Batara Payangan, berkomitmen mengubah wajah wilayah perbatasan negara menjadi terang benderang. Melalui gagasan strategis bertajuk program ‘Kaltara Terang di Perbatasan Negeri’, Yosua menargetkan percepatan elektrifikasi di daerah pelosok guna mendongkrak produktivitas warga dan menekan angka kemiskinan.

Yosua mengungkapkan bahwa masyarakat di beranda terdepan NKRI yang berbatasan langsung dengan Malaysia masih merasakan kesenjangan akses energi yang tajam. Saat warga kota menikmati listrik sebagai kebutuhan dasar, warga perbatasan justru masih menganggap listrik sebagai barang mewah.

banner 728x90

“Banyak desa hanya mengandalkan genset dengan biaya tinggi, bahkan ada warga yang sama sekali belum menikmati listrik sepanjang hidup mereka,” ujar Yosua kepada media di Tanjung Selor.

Menyadari kondisi geografis Kaltara yang didominasi hutan lebat, pegunungan terjal, dan sungai besar, Yosua menawarkan solusi berbasis Energi Baru Terbarukan (EBT). Program ini memprioritaskan pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) dan Pembangkit Listrik Tenaga Mikrohidro (PLTMH) dengan sistem off-grid.

Gagasan yang ia presentasikan dalam Pelatihan Kepemimpinan Nasional (PKN) Tingkat II di Jawa Tengah ini menjadi jawaban atas roadmap pembangunan perbatasan periode 2025–2030.

“Kami menyiapkan regulasi berupa Peraturan Gubernur serta skema pendanaan multi-sumber, mulai dari APBN, APBD, dana CSR, hingga kolaborasi hexahelix yang melibatkan pihak swasta dan akademisi,” jelasnya.

Yosua telah menyusun langkah konkret dalam tiga tahapan implementasi:

  1. Jangka Pendek: Pemetaan desa tanpa listrik dan pelaksanaan proyek percontohan (pilot project).

  2. Jangka Menengah: Pembangunan infrastruktur EBT di desa prioritas serta pelatihan SDM lokal agar mandiri mengelola pembangkit.

  3. Jangka Panjang: Mencapai rasio elektrifikasi 100% dan menciptakan kemandirian energi yang berdampak langsung pada penurunan angka kemiskinan.

Secara ekonomi, penggunaan PLTS terbukti jauh lebih hemat dibandingkan mesin diesel (PLTD). Yosua mengklaim penghematan biaya listrik rumah tangga bisa mencapai lebih dari 100% karena tidak lagi bergantung pada bahan bakar fosil yang mahal.

Dampak sosialnya pun luas. Listrik akan menerangi fasilitas belajar daring di sekolah, mendukung penyimpanan vaksin di Puskesmas, hingga membuka akses internet di wilayah 3T.

“Program ini bukan sekadar proyek kabel dan lampu. Ini adalah langkah nyata untuk menggerakkan ekonomi desa, meningkatkan produktivitas, dan memutus lingkaran kemiskinan di Kalimantan Utara,” tegas Yosua menutup pembicaraan.

banner 728x90
Baca Juga:  Status BLUD Dorong SMK Lebih Fleksibel Kembangkan Keterampilan Siswa